Ketika Abu Nawas Salah Masuk Rumah



PADA seorang yang berbuat salah, sesungguhnya Tuhan selalu memberi tanda-tanda agar ia tidak terus menerus melakukan kesalahan. Namun banyak orang tidak mampu menangkap tanda-tanda itu, dan yang akhimya tak henti-hentinya ia melakukan kesalahan, seperti apa yang dialami Abu Nawas berikut ini.

Suatu ketika Abu Nawas melewati rumah yang sepertinya milik Abu Wardah, maka tak enak kalau ia tidak mampir ke sana.

Diketuknya pintu rumah itu, dan keluarlah penjaga rumah yang sudah cukup tua. Dengan keheranan, pen- jaga rumah itu bertanya, "Tuan Abu Wardah, kenapa baru beberapa jam saja rambut Anda sudah memutih dan tubuh Anda mengurus?"

"Tapi, saya bukan Abu Wardah!"

"Lho, nama Anda sudah ganti juga?"

Dikutip verbatim dari Ashad Kusuma Abu Nawas dan Abu Wardah, Yogyakarta Kreasi Wacana hlm 61. 

Pelajaran yang bisa kita petik.
1. Jangan sembrono.
2. Berpikir sebelum bertindak.
3. Jangan sungkan untuk bertanya jika kita tidak tahu.
4. Jangan sungkan meminta maaf jika salah.

Nasihat Abu Nawas tentang Rumah Idaman


SUDAH lama Abu Wardah tidak bertemu Abu Nawas.

Ia begitu rindu pada kawannya yang konyol dan cerdas itu. Apalagi akhir-akhir ini ia memiliki masalah dengan rumah tangganya sehingga butuh nasihat dari Abu Nawas.

Maka didatanginya rumah Abu Nawas, ternyata kawannya itu tengah bertafakur dengan khusyuk. Abu Nawas pun menyambut gembira kedatangan karibnya itu. Dan kemudian Abu Wardah menguraikan masalahnya.

"Begini, akhir-akhir ini aku merasa rumah yang aku tinggali bersama istri dan kesepuluh anakku semakin lama semakin terasa sempit. Karena itu kami merasa kurang berbahagia akhir-akhir ini," kata Abu Wardah membeberkan kesulitannya.

Mendengar itu, Abu Nawas bertanya "Apakah dombamu masih ada?"

"Tidak, tetapi aku bisa membelinya lagi!" jawab Abu Wardah.

"Kalau begitu belilah seekor dan tempatkan domba itu di dalam rumahmu Abu Nawas menyarankan Abu Wardah tidak membantah, dan ia langsung membeli seekor domba seperti yang disarankan Abu Nawas

Beberapa hari kemudian Abu Wardah datang lagi menemui Abu Nawas.

Wahai Abu Nawas, aku telah melaksanakan saranmu, tetapi rumahku bertambah sesak Aku dan keluargaku merasa segala sesuatu menjadi lebih buruk dibandingkan sebelum tinggal bersama domba," kata Abu Wardah mengeluh.

Kalau begitu belilah lagi beberapa ekor unggas dan tempatkan juga mereka di dalam rumahmu" kata Abu Nawas Abu Wardah percaya kata-kata Abu Nawas, ia langsung membeli beberapa ekor unggas yang ke kemudian dimasukkan ke dalam rumahnva. Beberapa hari kemudian Abu Wardah datang lagi ke rumah Abu Nawas.

"Wahai Abu Nawas, aku telah melaksanakan sa saran-saran dengan menambah penghuni rumahku dengan beberapa ekor unggas. Namun begitu, aku dan keluargaku semakin tidak betah tinggal di rumah yang makin banyak penghuninya. Kami makin merasa tersiksa," kata Abu Wardah dengan wajah yang semakin muram

"Kalau begitu belilah seekor anak unta dan peliha ralah di dalam rumahmu!" kata Abu Nawas menyarankan.

Karena Abu Nawas berkata dengan serius, Abu Wardah tidak membantahnya. la langsung pergi ke pasar hewan membeli seekor anak unta untuk dipelihara di dalam rumahnya.

Beberapa hari kemudian Abu Wardah datang lagi menemui Abu Nawas. la berkata, "Wahai Abu Nawas, tahukah engkau bahwa keadaan di dalam rumahku sekarang hampir seperti neraka. Semuanya berubah menjadi lebih mengerikan daripada hari-hari sebelum nya. Wahai Abu Nawas, kami sudah tidak tahan tinggal serumah dengan binatang-binatang itu!" kata Abu Wardah putus asa.

"Baiklah, kalau kalian sudah merasa tidak tahan maka juallah anak unta itu," kata Abu Nawas.

Abu Wardah tidak membantah, ia langsung men jual anak unta yang baru dibelinya.

Beberapa hari kemudian Abu Nawas berkunjung ke rumah Abu Wardah, ia bertanya keadaan Abu War dah sekarang

Abu Wardah menjelaskan, "Keadaan Nya sekarang terasa lebih baik karena unta itu sudah tidak tinggal di sini lagi."

"Baiklah, kalau begitu sekarang juallah unggas unggasmu!" kata Abu Nawas.

Abu Wardah tidak membantah, ia pun langsung menjual unggas-unggasnya.

Beberapa hari kemudian Abu Nawas bertamu ke rumah Abu Wardah lagi. la bertanya, "Bagaimana ke adaan rumah kalian sekarang?"

"Kami merasakan rumah kami bertambah luas ka rena binatang-binatang itu sudah tidak tinggal bersama kami lagi. Dan kami sekarang merasa lebih berbahagia daripada dulu. Kami mengucapkan terima kasih tak terhingga kepadamu, hai Abu Nawas!" kata Abu Wardah

"Sebenarnya ukuran sempit dan luas itu terletak pada pikiranmu sendiri. Kalau engkau selalu bersyukur atas nikmat dari Tuhan maka Tuhan akan mencabut kesempitan dalam hati dan pikiranmu," kata Abu Na was menjelaskan

"Apakah hal itu tidak mengarah pada tindakan menipu diri sendiri, karena memang tak punya tapi merasa punya?"

"Bagiku, tindakan menipu diri sendiri sesungguh nya muncul dari rasa iri pada yang dimiliki orang lain

Semua orang harus berangkat dari apa yang dimiliki nya, di situlah kreatifitas akan muncul. Itulah yang disebut syukur!"

Dikutip verbatim dari Ashad Kusuma Abu Nawas dan Abu Wardah Yogyakarta Kreasi Wacana hlm 12-15.

Pelajaran yang bisa kita petik.
1. Bersyukur atas segala anugerah yang diberikan oleh Allah SWT.
2. Selalu berpikir positif atas segala sesuatu.
3. Jangan gampang mengeluh.
4. Dalam urusan dunia, lihatlah mereka yang ada di bawah.
5. Segala perbuatan yang tampak berat sesungguhnya ringan jika segera dikerjakan.

Buat Apa Abu Nawas Menyapu Lantai?


ADA dua kemungkinan mengapa ada seorang yang mengaku sufi dan tidak mau berbuat sesuatu bagi orang banyak. Mungkin dia sudah tahu betul apa untung rugi tindakannya itu, jadi ia memilih untuk tidak m lakukan. Tapi bisa juga hal itu hanya karena dia malas melakukan. Kenyataan seperti itu persis dengan apa vang dialami oleh Abu Nawas berikut ini:

Abu Nawas dipinjami pesuruh oleh Abu Wardah untuk membersihkan rumahnya karena akan menda pat kunjungan Sultan Harun al-Rasyid. Tetapi, pesuruh itu nampaknya orang yang sangat malas. Baru beberapa bagian yang dia bersihkan, ia sudah tertidur pulas. Ka rena waktu yang mendesak, Abu Nawas membangunkannya dengan kasar agar ia menyelesaikan pekerjaannya.

Dengan nada malas, pesuruh itu berkata, "Kenapa mesti dibersihkan semua, besok juga kotor lagi!"

Sambil memendam rasa marah, Abu Nawas ber sama anaknya meneruskan sendiri acara bersih-bersih rumah. Hingga sore pekerjaan baru selesai, dan pesuruh itu nampak kelaparan. Dengan menghina, pesuruh tadi meminta makan kepada tuan rumah.

Dengan ketus Abu Nawas mengatakan, "Kelap harus makan. Nanti khan juga lapar lagi?

Dikutip verbatim dari Ashad Kusuma, Abu Nawas dan Abu Wardah Yogyakarta Kreasi Wacana, hlm 60.

Pelajaran yang bisa dipetik:
1. Jangan malas.
2. Jangan banyak komentar.
3. Tidak mesti apa yang kita lakukan tidak bermanfaat.
4. Lakukan hal positif apa pun yang dikatakan orang.

Abu Nawas Kehujanan


Ketika Abu Nawas dalam perjalanan pulang tiba-tiba hujan yang sangat lebat. Orang-orang lari ng-painting mencari tempat berteduh. Namun, Abu Nawas tetap melenggang dengan santainya tan pa paving. Abu Wardah yang melihat itu berteriak,

"Hai Abu Nawas, kenapa kau tidak berjalan cepat cepat?"

"Kenapa harus cepat-cepat, di depan hujannya juga deras!"

Dikutip verbatim dari Ashad Kusuma Abu Nawas dan Abu Wardah Yogyakarta Kreasi Wacana.

Pelajaran yang bisa kita lakukan.
1. Tidak perlu terlalu serius memperhatikan kehidupan.
2. Ada kalanya kita harus menikmati kehidupan.
3. Tidak perlu semua hal dari orang lain kita komentari.

Sajadah Ajaib Abu Nawas




SESEORANG kadang berusaha memberi tahu ke salahan orang lain agar tidak terulang lagi. Namun kadangkala dia melupakan mana yang prinsip, mana yang tidak, sehingga yang terjadi justru orang terlalu gampang menyalahkan yang betul dan membetulkan yang salah.

Suatu ketika Abu Nawas sembahyang menghadap ke kiblat dengan sajadah yang arahnya terbalik. Se sudah shalat, orang-orang menegur Abu Nawas karena kesalahan arah sajadah itu. Lalu Abu Nawas bertanya,

"Apakah arah sembahyangku salah?"

"Tidak, hanya arah sajadah Anda yang salah!"

"Kalau begitu, tegur saja sajadahku. Jangan aku!"

Dikutip verbatim dari Ashad Kusuma, Abu Nawas dan Abu Wardah Yogyakarta Kreasi Wacana.

Pelajaran yang bisa dipetik:
1. Jangan sombong
2. Mengingatkan harus dengan cara yang sopan.
3. Niat baik harus dilakukan dengan perbuatan yang baik.


Pembalasan Abu Nawas




ABU Nawas gusar bukan kepalang. Tadi pagi beberapa pekerja kerajaan atas perintah Baginda Raja membongkar rumah dan terus menggali tanpa bisa dicegah.

Kata mereka, tadi malam Baginda bermimpi bahwa di bawah rumah Abu Nawas terpendam emas dan per mata vang tak ternilai harganya. Tetapi setelah mereka terus menggali ternyata emas dan permata itu tidak ditemukan. Dan Baginda juga tidak meminta maaf kepada Abu Nawas, apalagi mengganti kerugian.

Inilah vang membuat Abu Nawas gusar, marah dan dendam.

Lama Abu Nawas memeras otak, namun ia belum juga menemukan muslihat untuk membalas Baginda.

Makanan yang dihidangkan oleh istrinya belum di sentuh karena nafsu makannya lenyap. Malam pun tiba, namun Abu Nawas tetap tidak beranjak. Keesokan harinya Abu Nawas melihat lalat-lalat mulai menyerbu makanan kemarin yang sudah basi. Ia tiba-tiba tertawa riang

"Tolong ambilkan kain penutup untuk makanan dan sebatang besi!" kata Abu Nawas kepada istrinya.

"Untuk apa?" tanya istrinya heran.

"Membalas Baginda Raja." kata Abu Nawas sing kata. Dengan muka berseri-seri Abu Nawas berangkat menuju istana. Setiba di istana Abu Nawas kembung ku hormat kemudian berkata,

"Ampun Tuanku, hamba menghadap Tuanku Ba ginda hanya untuk mengadukan perlakuan tamu-tamu vang tidak diundang. Mereka memasuki rumah hamba tanpa ijin dan berani memakan makanan hamba."

"Siapakah tamu-tamu yang tidak diundang itu wahai Abu Nawas?" sergap Baginda kasar. "Lalat-lalat ini, Tuanku," kata Abu Nawas sambil membuka pe nutup piringnya. "Kepada siapa lagi kalau bukan ke pada Baginda junjungan hamba, hamba mengadukan perlakuan yang tidak adil ini?"

"Lagu keadilan yang bagaimana yang engkau inginkan dariku?"

"Hamba hanya menginginkan ijin tertulis dari Baginda sendiri agar hamba bisa dengan leluasa menghukum lalat-lalat itu!" Baginda Raja tidak bisa mengelakkan diri menolak permintaan Abu Nawas karena pada saat itu para menteri sedang berkumpul di istana. Maka dengan terpaksa Baginda membuat surat izin yang isinya memperkenankan Abu Nawas memukul lalat-lalat itu di mana pun mereka hinggap Tanpa menunggu perintah Abu Nawas mula mengusir lalat-lalat di piringnya hingga mereka terbang dan hinggap di sana-sini. Dengan tongkat besi yang sudah sejak tadi dibawanya dari rumah, Abu Nawas mulai mengejar dan memukuli lalat-lalat itu.

Ada yang hinggap di kaca: Abu Nawas dengan leluasa memukul kaca itu hingga hancur, kemudian vas bunga yang indah, kemudian giliran patung hias hingga sebagian dari istana dan perabotannya remuk diterjang tongkat besi Abu Nawas. Bahkan Abu Nawas tidak merasa malu memukul lalat yang kebetulan hinggap di tempayan Baginda Raja.

Baginda Raja tidak bisa berbuat apa-apa kecuali menyadari kekeliruan yang telah dilakukan terhadap Abu Nawas dan keluarganya. Dan setelah merasa puas, Abu Nawas mohon diri. Barang-barang kesayangan Baginda banyak yang hancur. Bukan hanya itu saja, Baginda juga menanggung rasa malu.

Abu Nawas pulang dengan perasaan lega. Istrinya pasti sedang menunggu di rumah untuk mendengarkan cerita apa yang dibawa dari istana.

Dikutip verbatim dari Ashad Kusuma Jaya, Abu Nawas dan Abu Wardah, Yogyakarta, Kreasi Wacana.

Pelajaran yang bisa dipetik
1. Jangan mudah melakukan perbuatan secara semena-mena meskipun sedang berkuasa.
2. Kekuasaan itu sifatnya sementara.
3. Apa yang saat ini enak, belum tentu akhirnya juga enak.
4. Jangan sombong, karena di atas langit masih ada langit.

Abu Nawas Mencintai Buku




WAKTU muda, Abu Nawas terkenal nakalnya. Namun dalam kenakalannya itu, setiap orang mengagumi kecerdikan dan kecintaannya pada buku. Kecintaan pada buku itulah yang mendorongnya datang meme mui ayah Abu Wardah yang terkenal kaya dan derma wan di kampungnya.

Kepada orang yang dermawan itu, ia berkata,

"Saya sedang mengumpulkan uang untuk membantu seorang anak yang orang tuanya tidak mampu mem belikan buku untuk dipelajarinya.".

"Kau memang anak yang baik," kata ayah Abu Wardah itu sambil memberinya uang. "Kalau boleh tahu, siapa anak itu?"

"Saya sendiri," jawab Abu Nawas, membuat wa jah ayah Abu Wardah cemberut.

Sebulan kemudian ia datang lagi kepada sang der mawan itu. Ayah Abu Wardah itu menemuinya dengan muka masam sambil berkata, "Pasti engkau ingin mengatakan soal anak yang orang tuanya tidak bis membelikan buku."

"Tepat sekali" kata Abu Nawas

"Dan engkau sedang mengumpulkan sumbangan kepadanya?"

"Demikianlah, ternyata Anda sudah tahu"

"Tentu anak itu adalah engkau sendiri?"

"Akh, kali ini anda keliru!"

"Hmm, bagus kalau begitu. Kau memang anak yang baik," kata ayah Abu Wardah sambil menyerahkan uang kepada Abu Nawas, lalu ia bertanya lagi, "O, ya, kenapa engkau begitu peduli pada anak itu?"

"Sebab, saya yang jual buku kepadanya!"



Dikutip dari buku Abu Nawas dan Abu Wardah. Mitra PUstaka