Abu Nawas Memarahi Anaknya





Namanya juga anak-anak. Pasti mereka suka bermain apa saja. Begitu juga anaknya Abu Nawas. Kalau Abu Nawas orangnya bandel, tentu anaknya juga tak kalah bandel.


Lalu bagaimana Abu Nawas menghadapi anak-anaknya?

Nah, pada kesempatan ini saya akan menceritakan dongeng Abu Nawas dengan anaknya yang sedang bandel.

Anak itu sedang bermain lampu minyak yang sedang menyala. Ketika itu Abu Nawas masih dalam perjalanan pulang bersama Abu Thalhah.

Ketika sampai rumah, Abu Nawas yang mendapati anaknya bermain lampu yang menyala itu segera saja memarahi si kecil tanpa ampun.

Istri Abu Nawas heran mengapa tiba-tiba suaminya marah sedemikian rupa.

Abu Thalhah yang sedianya langsung pulang menghentikan langkah kakinya demi melihat Abu Nawas. Ia heran mengapa Abu Nawas yang baru saja tertawa bersamanya tiba-tiba marah bukan kepalang.

Abu Nawas tak peduli semua itu. Ia ambil lampu itu dan segera ia padamkan.

* * *

“Yah... kamu kok tiba-tiba marah begitu?” kata Umu Nawas, istri Abu Nawas.

“Kamu gak lihat, itu si kecil main-main api. Nanti kalau kebakaran bagaimana?”

Abu Thalhah segera menyambut, “Tapi kan nyatanya tidak ada kebakaran.”

“Justru itu masalahnya.... Kalau sudah terjadi kebakaran dan rumahku habis terbakar, tak ada gunanya aku marah-marah. Rumahku tak akan kembali lagi.”, kata Abu Nawas.



Pelajaran yang bisa diambil dari kisah Abu Nawas Memarahi Anaknya


1. Tindakan preventif atau mencegah itu sangat perlu dan jauh lebih baik.

2. Bahkan semuanya akan sia-sia jika nasi sudah menjadi bubur.

3. Tapi ya jangan galak-galak kalau memarahi. Sewajarnya saja ya, Ayah-Bunda.... he he...

Abu Nawas dan Kecerdasan Keledainya





Kali ini saya akan bercerita tentang Kisah Abu Nawas dan khalifah Harun Al-Rasyid. Kisah ini saya temukan dalam sebuah buku yang ditulis M. Quraish Syihab. Saya lupa judulnya. Tapi isinya tentang bagaimana menjawab pertanyaan-pertanyaan anak kecil tentang bangunan dasar dalam Islam.

Kita sekarang langsung ke kisah Abu Nawas. Tapi sebelum itu, ada satu hal tentang konteks kisah ini yang perlu saya ceritakan lebih dahulu.

Pada zaman Abu Nawas, sebagaimana sekarang, bahan makanan pokok bangsa Arab adalah gandum. Salah satu cara untuk mengolah gandum adalah dengan menggiling biji gandum sehingga menjadi tepung lalu diolah menjadi roti. Proses penggilingan bisa ditumbuk.

Bagi yang kaya, mereka biasa menggunakan gilingan gandum berupa batu silinder yang ditarik berputar oleh binatang. Batu inilah yang menggilas butiran gandum sehingga lebur menjadi tepung.

Tenaga yang digunakan untuk memutar silinder batu ini biasanya keledai. Dan siang itu Abu Nawas sedang menggiling gandum. Ia mengawasi keledainya yang terus berputar menggiling gandum. Ilustrasinya seperti gambar di atas.

Suhu musim semi yang sejuk membuat Abu Nawas terkantuk-kantuk hingga tertidur.

Zzzzzz........

Saat Abu Nawas tertidur inilah si keledai berhenti berputar.



* * *



“Hai Abu Nawas. Keledaimu berhenti. Hahaha....”, kata Abu Thalhah, yang kebetulan lewat.

Abu Nawas terkaget dan bangun sembari mendapati keledainya bersimpuh juga sambil terkantuk-kantuk.

Segera Abu Nawas menyabet keledai agar segera bangkit dan kembali bekerja.

Sembari bersungut-sungut, Abu Nawas mengambil lonceng kecil dan mengalungkan di leher keledai. Lonceng itu pun terus bergemerincing.

Abu Nawas kembali ke kursi malasnya dan berkata, “Nah, sekarang saya bisa istirahat lagi.”

Abu Thalhah segera menyahut, “Lah... bagaimana kalau keledaimu cuma duduk bersimpuh sambil pura-pura bekerja dengan hanya menggoyangkan loncengnya?”

Apa jawab Abu Nawas?

“Ah... nanti saya pikirkan solusi yang lain kalau keledaiku bisa berpikir sejauh pikiranmu itu. Sekarang saya tidur dulu.”

Hahaha.....



Pelajaran yang bisa dipetik dari Kisah Abu Nawas dan Kecerdasan Keledainya
1. Kelebihan manusia dibanding binatang adalah bahwa manusia memiliki imajinasi atau daya nalar. Dengan imajinasi ini manusia bisa melakukan banyak hal yang kreatif.

2. Kita harus berpikir efektif dalam menyelesaikan problem yang ada. Fokus pada solusi, bukan pada problem.

3. Hadapi dengan santai segala keruwetan hidup. 





Abu Nawas Dipermalukan Hakim Agung




Kebetulan siang itu Abu Nawas bertamu ke kediaman Khalifah Harun al-Rasyid. Ia dijamu dengan banyak makanan dan minuman. Saat berbincang-bincang banyak hal, tiba-tiba datang seorang prajurit. 


"Maaf, Yang Mulia..." 
"Ada apa?"
"Hakim Agung datang menghadap."
"Oh... Iya. Silakan ia masuk."
"Baik, Tuan."

Hakim Agung kemudian nimbrung dengan pembicaraan Abu Nawas dan Khalifah. Ketiganya berbincang tentang banyak persoalan di tengah masyarakat. 

Berkali-kali Abu Nawas menyindir sang Hakim Agung di hadapan Khalifah. Sindiran itu terkait dengan desas-desus yang beredar di kalangan masyarakat luas bahwa Hakim Agung acap menerima suap. Khalifah beberapa kali melirik Hakim Agung yang wajahnya berubah.

Rupanya sang Hakim Agung merasa tersindir dan tersinggung. Ia segera bertanya sembari menjebak Abu Nawas.

"Saudaraku, Abu Nawas. Saya ada pertanyaan penting inih."
"Hm... pertanyaan penting apa itu, Tuan Hakim?"
"Begini. Jika suatu ketika engkau diberi dua pilihan, antara emas dan kebijaksanaan. Engkau memilih yang mana?"
"Ya jelas saya memilih emas."
"Masya Allah... Rupanya orang-orang selama ini keliru mengira engkau sebagai seorang yang zuhud. Tapi ternyata.... ah sudahlah."
"Lho memangnya kenapa kalau saya memilih emas, Tuan Hakim? Saya memilih emas karena memang saya tidak punya emas. Saya 'kan memang butuh. Jadi wajar dong? Lha... Bukankah setiap orang merasa butuh akan sesuatu yang tidak ia miliki? Benar begitu, Tuan Khalifah?" Abu Nawas menoleh ke Khalifah sambil melirik sang Hakim. 

Dan wajah Tuan Hakim pun seperti monyet ketulup.