Abu Nawas Dipermalukan Hakim Agung




Kebetulan siang itu Abu Nawas bertamu ke kediaman Khalifah Harun al-Rasyid. Ia dijamu dengan banyak makanan dan minuman. Saat berbincang-bincang banyak hal, tiba-tiba datang seorang prajurit. 


"Maaf, Yang Mulia..." 
"Ada apa?"
"Hakim Agung datang menghadap."
"Oh... Iya. Silakan ia masuk."
"Baik, Tuan."

Hakim Agung kemudian nimbrung dengan pembicaraan Abu Nawas dan Khalifah. Ketiganya berbincang tentang banyak persoalan di tengah masyarakat. 

Berkali-kali Abu Nawas menyindir sang Hakim Agung di hadapan Khalifah. Sindiran itu terkait dengan desas-desus yang beredar di kalangan masyarakat luas bahwa Hakim Agung acap menerima suap. Khalifah beberapa kali melirik Hakim Agung yang wajahnya berubah.

Rupanya sang Hakim Agung merasa tersindir dan tersinggung. Ia segera bertanya sembari menjebak Abu Nawas.

"Saudaraku, Abu Nawas. Saya ada pertanyaan penting inih."
"Hm... pertanyaan penting apa itu, Tuan Hakim?"
"Begini. Jika suatu ketika engkau diberi dua pilihan, antara emas dan kebijaksanaan. Engkau memilih yang mana?"
"Ya jelas saya memilih emas."
"Masya Allah... Rupanya orang-orang selama ini keliru mengira engkau sebagai seorang yang zuhud. Tapi ternyata.... ah sudahlah."
"Lho memangnya kenapa kalau saya memilih emas, Tuan Hakim? Saya memilih emas karena memang saya tidak punya emas. Saya 'kan memang butuh. Jadi wajar dong? Lha... Bukankah setiap orang merasa butuh akan sesuatu yang tidak ia miliki? Benar begitu, Tuan Khalifah?" Abu Nawas menoleh ke Khalifah sambil melirik sang Hakim. 

Dan wajah Tuan Hakim pun seperti monyet ketulup. 

Share this

Related Posts

First